Monday, February 20, 2012

PERILAKU ORGANISASI PADA GURU FIQIH

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan potensi sadar untuk menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalaui kegiatan pengajaran. Ada dua konsep pendidikan yang saling berkaitan yaitu belajar (Learning) dan pembelajaran (Instruction). Konsep belajar berakar pada pihak pendidik. Tujuan pendidikan adalah membentuk sumber daya manusia yang berkualitas tinggi yaitu manusia yang mampu menghadapai perkembangan zaman.[1]
Untuk Pencapaian tersebut di butuhkan visi, misi dan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bersama oleh warga sekolah, diperlukan kondisi sekolah yang kondusif dan keharmonisan antara tenaga pendidikan yang ada di sekolah antara lain kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, dan orang tua murid/masyarakat yang masing-masing mempunyai peran yang cukup besar dalam mencapai tujuan organisasi. Meneurut John. M. Pfiffner dan S. Owen Lane menyebutkan bahwa organisasi adalah proses pemnggabungan perkerjaan yang orang-orang atau kelompok harus melakukan dengan kekuasaan yang di perlukan unruk pelaksaaannya (Sutarto, 1984: 24). Artinya bahwa suatu organisasi akan berhasil dalam mencapai tujuan dan program-programnya jika orang-orang yang bekerja dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik sesuai dengan bidang dan tanggung jawabnya. Agar orang-orang dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka diperlukan seorang pemimpin yang dapat mengarahkan segala sumber daya dan membawa organisasi pendidikan (sekolah) menuju ke arah pencapaian tujuan.[2]
Dalam suatu organisasi, berhasil atau tidaknya tujuan tersebut sangat dipengaruhi oleh factor-faktor seperti pemimpin dan orang yang dipimpinnya, serta perilaku organisasi yang dijalankannya atau tempat dimana kegiatan manajeman dijalankan (Supardi dan Syaiful Anwar, 2002; 1). Agar organisasi dan kepemimpinan yang dilaksanakan oleh pemimpin dalam organisasi dapat berjalan secara efektif dan efesien, salah satu tugas yang harus dilakukan adalah mengawal dan mengarahkan perilaku organisasi dalam memberikan kepuasan kepada orang yang dipimpinnya/ yang menjadi costumernya.
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin di lingkungan satuan pendidikan harus mampu mewujudkan tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Kepemimpinan dalam lingkungan satuan pendidikan selalu melibatkan upaya seorang kepala sekolah untuk mempengaruhi perilaku organisasi, para pengikut/guru dalam suatu situasi. Agar kepala sekolah dapat melaksanakan fungsi kepemimpinannya, dia bukan saja harus memiliki wibawa tetapi harus memiliki kesanggupan untuk menggunakan wibawa ini terhadap para guru supaya diperoleh kinerja guru yang baik.[3]
Dalam sebuah organisasi perlu ditetapkan arah perilaku organisasi dan azas-azasnya. Diantaranya adalah pembagian tugas. Yang perlu diperhatikan dalam azas pembagian tugas ini adalah kemampuan dari individu-individu yang diserahi tugas. Dengan demikian dalam suatu organisasi perlu adanya manajemen efektif yang mampu mengarahkan dan membina perilaku organisasi dan administrasi.[4]
Dari uraian tersebut di atas, maka perilaku suatu organisasi dapat berpengaruh sangat besar dalam pencapaian tujuan/ visi dan misi suatu organisasi maupun dalam tatanan hidup di masyarakat. Robbins (2002). Menjelaskan perilaku organisasi berupaya mengetahui faktor-faktor penyebab perilaku seseorang atau kelompok. Penjelasan terhadap suatu fenomena dalam manajemen merupakan hal penting karena membantu para manajer atau pemimpin tim dalam melakukan sasaran lain yaitu mengendalikan situasi penyebab perilaku individu atau kelompok kerja tersebut.
Atas pemahaman tersebut, dapat diketahui bahwa manajemen dalam suatu organisasi merupakan suatu keahlian menggerakkan dan mengendalikan orang lain untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dengan demikian aktifitas dari kegiatan organisasi ditentukan oleh peran seorang pemimpin dan dibantu oleh individu-individu yang menjadi bawahannya. Dan di setiap lembaga satuan pendidikan tentu mempunyai seorang kepala sekolah sebagai pemimpin dan guru, serta karyawan sebagai bawahannya.
Pemimpin oleh Winardi (2004:304) didefinisikan sebagai berikut :
“Pemimpin adalah seorang yang karena kecakapan-kecakapan pribadinya dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk mengerahkan usaha bersama ke arah pencapaian sasaran-sasaran tertentu “. Dari pendapat tersebut pengertian pemimpin mewujudkan adanya kemampuan untuk menggerakkan, membimbing, memimpin dan memberi kegairahan kerja terhadap orang lain. Jadi bila ditarik kesimpulan dari pendapat diatas, pemimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi, menggerakkan, menumbuhkan perasaan ikut serta dan tanggung jawab, memberikan fasilitas, tauladan yang baik serta kegairahan kerja terhadap orang lain.[5]
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin di satuan pendidikan merupakan pemimpin formal, artinya dia diangkat secara formal (Formally Designated Leader) oleh organisasi yang bersangkutan atau organisasi yang menjadi atasannya. Guru (pendidik) menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XI pasal 39 adalah : [6]
“Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”.
Tenaga guru adalah salah satu tenaga kependidikan yang mempunyai peran sebagai faktor penentu keberhasilan tujuan organisasi selain tenaga kependidikan lainnya, karena guru yang langsung bersinggungan dengan peserta didik, untuk memberikan bimbingan yang muaranya akan menghasilkan tamatan/lulusan yang diharapkan. Untuk itu kinerja guru harus selalu ditingkatkan. Upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja itu biasanya dilakukan dengan cara memberikan motivasi, mengadakan supervisi, memberikan insentif, memberikan kesempatan yang baik untuk berkembang dalam karir, meningkatkan kemampuan, dan gaya kepemimpinan yang baik. Sementara kinerja guru dapat ditingkatkan apabila yang bersangkutan merasa senang dan cocok dengan gaya kepemimpinan yang terapkan oleh kepala sekolah.[7]
Realitas menunjukan bahwa kreatifitas dan kinerja guru yang ada di sebuah lembaga pendidikan bergantung dari bagaimana peran seorang kepala sekolah dalam memberi kebijakan atau perintah kepada guru. Guna mencapai tujuan pendidikan tersebut diperlukan proses pendidikan. Pendidikan dapat ditempuh melalui jalur formal dan nonformal. Pendidikan formal merupakan pendidikan yan dimulai dari jenjang terendah hingga tertinggi yang harus ditempuh dengn serangkaian persyaratan tertentu jika akan naik kejenjang selanjutnya. Pendidikan nonformal merupakan jenjang pendidikan yang diperoleh dalam sebuah lembaga pendidikan yang beorientasi memberi dan meningkatkan ketrampilan yang dibutuhkan untuk berkompetisi dalam meraih kesuksesan hidup. [8]
Mutu pendidikan yang baik yaitu diikuti dengan hasil belajar siswa yang baik pula. Madrasah juga berusaha meningkatkan mutu pendidikan dengan cara meningkatkan hasil belajar siswa. Madrsasah memiliki peran untuk menyiapkan siswa untuk berkompotisi dalam dunia ini. Siswa lulusan madrsah nantinya diharapkan mampu menghadapi era globalisasi, dimana dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, mandiri dan berdaya saing tinggi. Berbagai usaha telah dilakukan Kementrian Agama untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional, agar tercapai tujuan secara optimal. Salah satunya yaitu penyempurnaan kurikulum. Penyempurnaan kurikulum memang harus dilakukan untuk merespon tuntutan globalisasi, kurikulum perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi, agar lulusan pendidikan memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai dengan standar mutu pendidikan nasional dan internasioanl.
Keberhasilan suatu pendidikan salah satunya ditentukan oleh bagaimana proses belajar mengajar itu berlangsung. Selain itu proses interaksi belajar pada prinsipnya tergantung pada guru dan siswa. Guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang efektif. Sedangkan siswa dituntut adanya semangat dan dorongan untuk aktif dalam proses balajar mengajar. Sehingga keberhasialan belajar dalam bidang kognitif, afektif dan psikomotorik dapat tercapai. Metode ini memposisikan siswa sebagai objek pembelajaran dan guru sebagai pusat kegiatan belajar. [9]
Selain itu metode pembelajaran konvensional yaitu menggunakan metode ceramah ini siswa hanya pasif menerima materi dari guru. Hal ini cenderung menjadikan suasana belajar kaku, monoton dan kurang menggairahkan, sehingga 4 siswa kurang aktif dan tidak bersemangat dalam belajar. Hal tersebut dapat mengurangi minat belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi. Banyak siswa menginginkan dirinya pandai dan berhasil dalam belajar, akan tetapi keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Keberhasilan dapat dicapai melalui usaha dan kerja keras. Agar siswa memperoleh hasil belajar yang baik maka perlu minat untuk belajar yaitu seberapa jauh siswa menaruh perhatian terhadap berbagai hal yang perlu dipelajari (liang Gie, 1994: 51). Minat belajar merupakan syarat awal yang harus dimiliki setiap orang sebelum belajar karena tanpa minat keberhasilan sulit dicapai (Suhartin, 1983: 58). Minat berpengaruh besar terhadap kegiatan belajar karena bila materi pelajaran atau suasana belajar tidak menyenangkan dan tidak mampu menarik perhatian siswa maka dapat dipastikan siswa tidak dapat belajar dengan baik, karena menurutnya tidak menarik. Minat belajar khususnya pada mata pelajaran ekonomi perlu ditumbuhkembangkan, mengingat siswa belajar di madrasah. Hal itu dikarenakan, jika dalam diri siswa tumbuh suatu minat pada mata pelajaran ekonomi maka siswa akan dengan mudah belajar, sehingga hasil yang dicapai akan baik. Dari observasi, diperoleh informasi dari guru mata pelajaran dasar Fiqih dan sebagian siswa.[10]

B.     Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaiman Perilaku organisasi guru Fiqih?
2.      Bagaimana guru fiqih menggerakkan organisasi’?

C.    Pembahasan Masalah
Tantangan seorang guru adalah menciptakan pembelajaran yang menggairahkan, menantang nafsu peserta didik, dan menyenangkan sehingga mampu menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Kerja guru bisa dipandang sebagai pekerjaan guru atau tugas seorang guru. Dalam pelaksanaan berbagai kebijakan, guru dituntut untuk menjadi ahli penyebar informasi yang baik.
Menurut Mulyasa (2007: 19) peran dan fungsi guru berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah. Di antara peran dan fungsi guru tersebut adalah sebagai berikut:[11]
1.      Sebagai pendidik dan pengajar, bahwa setiap guru harus memiliki kestabilan emosi, ingin memajukan peserta didik, bersikap realistis, jujur dan terbuka, serta peka terhadap perkembangan, terutama inovasi pendidikan.
2.      Sebagai anggota masyarakat, bahwa setiap guru harus pandai bergaul dengan masyarakat. Untuk itu harus menguasai psikologi social, memiliki pengetahuan tentang hubungan antar manusia, memiliki keterampilan membina kelompok, keterampilan bekerjasama dalam kelompok dabn menyelesaikan tugas berdama dengan kelompok.
3.      Sebagai pemimpin, bahwa setiap guru adalah pemimpin yang harus memiliki kepribadian, menguasai ilmu kepemimpinan, prinsip hubungan antar manusia, teknik berkomunikasi, serta menguasai berbagai aspek kegiatan organisasi sekolah.
4.      Sebagai administrator, bahwa setiap guru akan dihadapkan pada berbagai tugas administrasi yang harus dikerjakan di sekolah sehingga harus memiliki pribadi yang jujur, teliti, rajin dan memahami strategidan manajemen pendidikan.
5.      Sebagai pengelola pembelajaran, bahwa setiap guru harus mampu dan menguasai berbagai metode pembelajaran dan memahami situasi belajar-mengajar di daolam maupun di luar kelas.

Dalam tugasnya sebagai seorang guru, individu ini dituntut untuk menjadi tenaga yang professional dan setidaknya harus memiliki empat jenis kompetensi yang harus mereka miliki. Keempat jenis kompetensi tersebut adalah sebagaimana tercantum dalam penjelasan Peraturan Pemerintah No.14 Tahun 2005 tentang  Standar Nasional Pendidikan, yaitu: 1) kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan dalam pengelolaan peserta didik; 2) kompetensi kepribadian, yaitu kepribadian yang dimiliki individu dalam konotasi positif untuk kemajuan tujuan sekolah secara luas; 3) kompetensi sosial, yaitu sebagai bagian dari masyarakat; dan 4) kompetensi profesional, yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam.  Sujanto (2007: 31-34) menjelaskan keempat kompetensi di atas berkaitan dengan guru sebagai pendidik professional yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada paud jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Upaya ini memperdalam pemahaman bahwa peserta didik harus bisa mencapai tingkat pemahaman yang setara meskipun masing-masing individu berbeda tingkat kemampuannya.
Kompetensi kepribadian adalah guru memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Bakat dan minat menjadi guru merupakan faktor penting untuk memperkokoh seseorang memilih profesi guru. Guru adalah teladan bagi anak didik, dan masyarakat sekitarnya (Sujanto. 2007: 32).
Kompetensi sosial adalah kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Guru harus menjauhkan sikap-sikap egois, sikap yang hanya mengedepankan kepentingan diri sendiri. Guru harus pandai bergaul, ramah terhadap peserta didik, orang tua maupun masyarakat pada umumnya.
Kompetensi profesional adalah kemampuan untuk dapat menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan guru mampu membimbing peserta didik dapat memenuhi standar kompetensi minimal yang seharusnya dikuasai oleh peserta didik. Guru diwajibkan menguasai dengan baik mata pelajaran yang diasuhnya, sejak dari dasar-dasar keilmuannya sampai dengan bagaimana metode dan teknik untuk mengajarkan serta cara menilaidan mengevaluasi siswa yang mengikuti proses belajar mengajar.
1.      Belajar dengan Melakukan
Melakukan aktifitas adalah bentuk penyataan diri anak. Pada hakikatnya anak belajar sambil melakukan aktifitas. Karena itu, siswa perlu diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang melibatkan dirinya, terutama untuk mencari dan menemukan sendiri. Dengan demikian, apa yang diperoleh siswa tidak akan mudah dilupakan. Pengetahuan tersebut akan tertanam dalam hati sanubari dan pikiran siswa karena ia belajar secara aktif. Siswa akan memperoleh harga diri dan kegembiraan kalau diberi kesempatan menyalurkan kemampuan dan melihat hasil kerjanya.
Dalam pembelajaran fiqh, mengajarkan materi sholat dengan praktek lebih efektif dan berkesan bagi siswa ketimbang dengan mengharuskan siswa untuk menghafal kaifiyah sholat. Demikian pula dalam pembelajaran manasik haji, tatacara pembagian harta warisan, pengurusan jenazah, kompetensi dasarnya akan dapat tercapai secara efektif apabila ditempuh dengan siswa melakukannya (mempraktekan).
2.      Mengembangkan Kemampuan Sosial
Sebagaimana bagian sebelumnya, kegiatan pembelajaran tidak hanya mengoptimalkan kemampuan individual siswa secara internal, melainkan juga mengasah kemampuan siswa membangun hubungan dengan pihak lain. Karena itu, kegiatan belajar harus dikondisikan yang membuat siswa melakukan interaksi dengan orang lain seperti antar siswa, antara siswa dengan guru, dan siswa dengan masyarakat. Dengan pemahaman ini, guru dapat menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang membuat siswa terlibat dengan orang lain, misalnya diskusi, pro-kontra, sosiodrama, dan sebagainya.
Dengan kegiatan pembelajaran secara berkelompok, antar siswa akan mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga muncul semangat saling mengisi dan menghargai satu sama lain. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran perlu dikondisikan sebagai media sosialisasi, menghargai perbedaan pendapat, dan bekerjasama.
3.      Mengembangkan Keingintahuan, Imajinasi, dan Fitrah Bertuhan
Siswa dilahirkan dengan memiliki rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah bertuhan. Dua yang pertama merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif. sedang yang ketiga untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Dengan pemahaman seperti ini, kegiatan pembelajaran perlu memperhatikan rasa ingin tahu dan imajinasi siswa serta diarahkan pada pengasahan rasa dalam beragama sesuai dengan tingkatan usia siswa. Bagi siswa tingkat MI tentu berbeda dengan tingkat MTs atau MA
4.      Mengembangkan Keterampilan Pemecahan Masalah
Tolok ukur kepandaian siswa banyak ditentukan oleh kemampuannya untuk memecahkan masalah. Karena itu, dalam proses pembelajaran perlu diciptakan situasi menantang kepada pemecahan masalah agar siswa peka terhadap masalah. Kepekaan terhadap masalah dapat ditumbuhkan jika siswa dihadapkan pada situasi yang memerlukan pemecahannya. Guru hendaknya mendorong siswa untuk melihat masalah, merumuskannya, dan berupaya memecahkannya sesuai dengan kemampuan siswa. Jika prinsip ini diterapkan dalam kegiatan pembelajaran nyata di kelas, maka pintu ke arah pembelajaran aktif siswa mulai terbuka. Untuk itu, sikap terbuka dan cepat tanggap terhadap gejala sosial, budaya, dan lingkungan perlu dipupuk ke arah yang positif.
Dalam pembelajaran kontemporer, kegiatan belajar yang mengharuskan siswa menghafal sebanyak-banyaknya tentang kasus dan cara pemecahannya dianggap tidak relevan lagi, sebab siswa tidak aktif mencari atau mengaitkan materi dengan konteks permasalahan di sekitarnya, namun hanya menghafalkan kasus yang belum tentu dijumpai di masyarakat. Dengan demikian, guru harus lebih banyak mengajak siswa untuk mengaitkan materi pelajaran dengan permasalahan riil di sekitarnya. Dengan cara seperti itu diharapkan setiap siswa terlibat aktif dalam memecahkan masalah di sekitarnya dengan menggunakan prosedur ilmiah.
5.      Mengembangkan Kreatifitas Siswa
Siswa memiliki potensi untuk berbeda. Perbedaan siswa terlihat dalam pola pikir, daya imajinasi, fantasi (pengandaian) dan hasil karyanya. Karena itu, kegiatan pembelajaran perlu dipilih dan dirancang agar memberi kesempatan dan kebebasan berkreasi secara berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kreatifitas siswa.
6.      Mengembangkan Kemampuan Menggunakan Ilmu dan Teknologi
Siswa perlu mengenal penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak dini. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak gagap terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dengan demikian kegiatan pembelajaran perlu memberikan peluang agar siswa memperoleh informasi dari multi media setidaknya dalam penyajian materi dan penggunaan media pembelajaran. Hal ini dapat diciptakan dengan pemberian tugas yang mengharuskan siswa berhubungan langsung dengan teknologi, misalnya membuat laporan tentang materi tertentu dari televisi, radio, atau bahkan internet.

Ø   Sumbangan dalam Keilmuan Islam
Pendidikan merupakan system pendidikan rabbani yang paripurna dengan memperhatikan fitrah manusia Allah menurunkannya untuk membentuk kepribadian anak atau manusia yang harmonis, disamping membuat teladan yang baik di muka bumi dan memanfaatkan seluruh kekuatan alam yang telah diciptakan sebaik mungkin. Sudah banyak orang mengetahui bahwa aliran pendidikan modern dan falsafah pendidikan Barat gagal dalam menyelamatkan anak dan umat manusia dari kedzaliman serta kegelapan, maka dari itu pendidikan Islammenjadi suatu tututan kebutuhan mutlak umat manusia untuk:
1.      Menyelamatkan dari ancaman hawa nafsu kebendaan, system matrealistis non humanistis, pemberian kebebasan yang berlebihan, pemanjaan dan budaya-budaya yang berbau kapitalisme Islam yang dinamis.
2.      Menyelamatkan di lingkungan bangsa-bangsa yang sedang berkembang  dan lemah, dan ketundukan, kepatuhan dan penyerahan diri kepada semua bentuk yang berbau penjajahan sehingga menjadi Islam yang kuat.
3.      dengan organisasi guru mata pelajaran fiqih semoga membentuk pribadi manusia dengan menanamkan akhlak yang baik sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an Dan Al-Hadits serta mampu mewujudkan anak didik menjadi manusia yang dapat mengaktualisasikan dirinya dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara sebagai proses kedewasaan yang abadi.

D.    Kesimpulan
Tujuan kajian perilaku organisasi pada dasarnya ada tiga, yaitu menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan perilaku manusia. Robbins (2002). Menjelaskan, kajian perilaku organisasi berupaya mengetahui faktor-faktor penyebab perilaku seseorang atau kelompok guru fiqih.
Sasaran pertama, terhadap suatu fenomena dalam manajemen merupakan hal penting karena membantu para manajer atau pemimpin tim dalam melakukan sasaran lain yaitu mengendalikan situasi penyebab perilaku individu atau kelompok kerja tersebut.
Sasaran kedua, yaitu meramalkan berarti perilaku organisasi membantu memprediksi kejadian organisasi di masa mendatang. Pengetahuan terhadap faktor-faktor penyebab munculnya perilaku individu atau kelompok membantu manajer meramalkan akibat-akibat dari suatu program atau kebijakan organisasi. Hal ini membantu melakukan pengendalian preventif terhadap perilaku individu dan kelompok dalam organisasi guru fiqih.
Sasaran ketiga yaitu mengendalikan mengandung arti bahwa perilaku organisasi menawarkan berbagai strategi dalam mengarahkan perilaku individu atau kelompok. Berbagai strategi kepemimpinan, motivasi, dan pengembangan tim kerja yang efektif merupakan contoh-contoh dalam mengarahkan perilaku individu dan kelompok guru fiqih.
Berhasil atau tidaknya organisasi mencapai visi dan misinya juga dipengaruhi oleh perilaku kepemimpinan dalam organisasi seperti: “membuat keputusan, menetapkan sasaran, memilih dan mengembangkan personalia, mengadakan komunikasi, memberikan motivasi, dan mengawasi pelaksanaan manajemen”.

Daftar pustaka

Supardi dan Syaiful Anwar, Dasar-dasar Perilaku Organisasi, UII Press Jogjakarta, 2002.
Sutarto, Dasar-dasar Organisasi, Gajah Mada University Press, 2000.
Hasibuan, Malayu S.P, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001.
Mulyasa, E, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: PT Remaja-Rosdakarya 2005.
Brich, P Instant Leaderhip. Terjemahan P. Hendrardjo. 2001. Instant Leadership: 66 Cara Instant Memiliki Kepemimpinan Praktis. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1999.
Kotter, J. P. & Heskett, J. L, Budaya korporat dan Kinerja. Terjemahan oleh Susi 2006.
Diah Hardaniati & Uyung Sulaksana: Corporate Culture and Performance. New York: 1992.
Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003, 2003, Sistem Pendidikan Nasional, http://www.depdiknas.go.id
Maxwell, J. C.  Developing the Leader within You. Terjemahan Anton 1995.
Adiwiyoto, Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam diri Anda. Jakarta: Binarupa Aksara, 1995.
Ouchi, Theori Z. Terjemahan. Jakarta: Aksara Persada, 1985.
Moh Nasir. Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1999
Lexy 1 Moleoang, Metodologi Kualitatif, Bandung : Remaja Rosda, Karya, 1998.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : Bima Akasara, 1989.


[1]  Supardi dan Syaiful Anwar, Dasar-dasar Perilaku Organisasi, UII Press Jogjakarta, 2002.
[2]   Supardi dan Syaiful Anwar, Dasar-dasar Perilaku.
[3] Sutarto, Dasar-dasar Organisasi, Gajah Mada University Press, 2000.
[4] Hasibuan, Malayu S.P, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001.
[5] Hasibuan, Malayu. S.P. Manajemen; Dasar, Pengertian dan Masalah. edisi revisi  Jakarta: Bumu Aksara, 2005.
[6]  Undang-undang  No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, Jakarta, Airlangga, 2003
[7] Hamalik, Oemar, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara, 2006
[8] Ibrahim Bafadal, Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar, Jakarta: Bumi Aksara, 2003

[9] Mulyasa, E, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: PT Remaja-Rosdakarya 2005.
[10] Mangkunegara,  A.A  Anwar  Prabu.  Perencanaan  dan  Pengembangan  Sumber Daya Manusia. Bandung: Refika Aditama, 2003.
[11]  Mulyasa, E, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: PT Remaja-Rosdakarya 2005.
Read more » 0 komentar

Thursday, February 16, 2012

MODEL PENELITIAN TASAWUF “IBNU AROBI” WAHDAT AL WUJUD DALAM PERDEBATAN

BAB I

PENDAHULUAN

    Latar Belakang

Islam sebagai agama yang bersifat universal dan mencakup berbagai jawaban atas sebagai kebutuhan manusia. Slain menghadapi kebersihan lahiriyah juga menghendaki kebersihan batiniyah. Lantaran penelitian yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batinnya.[1]

Tasawuf merupakan bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutanya dapat menimbulkan akhlak mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoteric dari diri manusia. Hal ini berbeda dengan aspek fiqih, khususnya pada bab thoharoh yang memusatkan perhatian pada pembersih aspek jasmani atau lahiriyah yang selanjutnya di sebut sebagai dimensi eksotrik.[2]

Dari suasana demikian itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral yang mengambil bentuk seperti manipulasi, koropsi, kolusi, penyalagunaan kekuasaan dan kesempatan, penindasan, dan sebagainya. Untuk mengatasi masalah ini tasawuf di bina secara intensif tentang cara-cara agar seseorang selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.[3]

    Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian tasawuf ?

2.      Siapakah para ahli yang telah timbul upaya untuk melakukan penelitian tasawuf ?

3.      Bagaimana model-model penelitian tasawuf ?

4.      Bagaimana Wahdat al-Wujud menurut Ibn al-‘arabi ?

5.      Bagaimana Panteisme dalam Wahdat al-Wujud menurut Ibn al-‘arabi?

6.      Apakah polemik pemakaian Istilah Panteisme untuk Wahdat al-Wujud?

    Pentingnya Kajian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas pentingnya Kajian yakni :

a)      Untuk mengetahui pengertian tasawuf.

b)      Untuk mengetahui siapa saja para ahli yang telah timbul upaya untuk melakukan penelitian tasawuf.

c)      Untuk mengetahui model –model penelitian tasawuf.

d)     Untuk Mengetahui Wahdat al-Wujud menurut Ibn al-‘arabi.

    Telaah Pustaka

Sudah dijelaskan bahwa antusiasme pengkajian terhadap Ibnu ‘Arabi sejak lama sampai saat ini terus menyala. Pemikiran Ibnu ‘Arabi menjadi daya tarik yang luar biasa melebihi tokoh-tokoh sezamannya dalam bidang tasawuf, untuk selalu dan selalu dikaji dan dipelajari. Ratusan karya yang membahas tentangnya sudah diterbitkan baik berupa buku, artikel, maupun jurnal yang ditulis intelektual Barat maupun Timur termasuk Indonesia. Seperti halnya sebuah obyek yang tidak hanya mempunyai satu sisi untuk dilihat, Ibnu ‘Arabi menawarkan banyak sisi yang selalu menantang untuk diteliti, pemikirannya yang luas dapat dilihat dari banyak segi.

Ada sebagian tokoh yang mengkhususkan diri meneliti riwayat hidupnya saja, misalnya Claude Addas dalam bukunya Quest for the Red Sulphur atau R.W.J. Austin dalam Sufis of Andalusia. Buku yang pertama memaparkan biografi Ibnu ‘Arabi dan yang kedua mengenai riwayat hidup dan zamannya yang memberi penjelasan tentang tujuh puluh orang Maghribi yang menurut Ibnu ‘Arabi dari merekalah dia “mengambil manfaat di jalan akhirat”.

Buku-buku yang memberikan gambaran tentang pemikiran Ibnu ‘Arabi juga tidak kalah banyaknya. Sebagai contoh buku Seal of the Saints dan An Ocean without Shore yang memberikan gambaran yang jelas tentang kedalaman ajaran Ibnu ‘Arabi tentang kewalian dan Qur’an. Buku ini ditulis oleh Michel Chodkiewicz. Sedangkan Henry Corbin dalam bukunya Creative Imagination in the Sufism of Ibnu ‘Arabi  menyajikan ajaran Ibnu ‘Arabi dengan cara sendiri. Stephen Hirtenstein bahkan menulis tentang ajaran dan kehidupan spiritual pribadi Ibnu ‘Arabi sekaligus dalam satu buku, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud, Ajaran & Kehidupan Spiritual Syaikh Al Akbar Ibnu ‘Arabi .

Dari sekian banyak buku yang membahas tentang Ibnu ‘Arabi, ada juga yang berusaha sekedar menterjemahkan karya-karyanya dalam bagian-bagian tetentu. Misalnya William C. Chittick mencoba menerjemahkan bagian-bagian dalam Futtuhat Makiyah dalam buku The Sufi Path of Knowledge dan The Self Disclosure of God. Ada juga Angela Seymour yang menerjemahkan 12 bab dari Fusushul Hikam dalam The Wisdom of the Prophet.12

Untuk mewakili tokoh intelek Timur yang menulis buku tentang Ibnu ‘Arabi, kita bisa menyebut A.E. Afifi yang bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Filsafat Mistis Ibnu ‘Arabi. Di dalamnya memaparkan hasil pemikiran Ibnu ‘Arabi yang dia petakan sebagai berikut : Ontologi, logos, Etika dan Estetika. Keempat klasifikasi tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Tokoh lain dari Timur yaitu S.H. Nashr yang memasukkan Ibnu ‘Arabi dalam tiga besar pemikir Islam dalam buku Three Muslim Sages yang meskipun karya pendek tetapi cukup representatif untuk memaparkan pemikiran Ibnu ‘Arabi.

    Metodologi

Penelitan ini bersifat kepustakaan murni atau library research. Artinya data-data yang digunakan berasal dari sumber kepustakaan baik primer maupun sekunder, baik berupa buku, ensiklopedi, jurnal, majalah dan lain sebagainya. Yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:

    Model penelitian historis faktual mengenai tokoh dan alirannya. Dalam hal ini adalah Ibnu ‘Arabi dengan wahdatul wujudnya
    Model penelitian Ibnu ‘Arabi dan filsafat sebelum kemudian mencari titik temunya.

Metode yang akan digunakan adalah deskriptif sintesis. Deskriptif adalah menggambarkan konsep atau pemikiran Ibnu ‘Arabi dan Plotinus lengkap dengan riwayat hidupnya. Sintesis adalah suatu usaha mencari kesatuan dalam keragaman atau mencari titik temu antara kedua pemikiran sehingga terwujud keterkaitan.

    Ruang lingkup Kajian

1.      Definisi Tasawuf

Dari segi kebahasaan (linguistic) terdapat sejumlah kata atau istilah yang di hubungkan orang dengan tasawuf. Selain pengertian tasawuf juga dapat dilihat dari segi istilah. Dalam kaitan ini terdapat tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawuf. [4]

a.         Sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas.

b.         Sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang.

c.         Sudut pandang manusia sebagai makhluk yang bertuhan.

Maka dari itu, tasawuf atau sufisme adalah salah satu jalan yang diletakkan Tuhan di dalam lubuk Islam dalam rangka menunjukkan mungkinnya pelaksanaan kehidupan rohani bagi jutaan manusia yang sejati yang telah berabad-abad mengikuti dan terus mengikuti agama yang diajarkan Al-Qur’an.

2.      Berbagai model dan bentuk dapat dikemukakan sebagai berikut :

1.      Model Sayyed Husein Nasr

Model Sayyed Husein Nasr selama ini dikenal sebagai ilmuan muslim ke-6 di abad modern yang amat produktif dalam melahirkan berbagai karya ilmiah. [5]

2.      Model Kautsar azhari Noor

Model Kautsar azhari Noor memusatkan perhatianya terhadap tasawuf dengan judul Ibnu Arabi : Whdat Al-wujud Dalam Perdebatan, dan telah diterbitkan oleh paramadina, Jakarta, tahun 1995. Paham Wadat Al-wujudi ini timbul dari faham bahwa Allah sebagai diterangkan dalam uraian tentang hulul, ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Oleh karena itu dijadikan ala mini merupakan cermin bagi Allah.

3.      Model Mustafa Zahri

Mustafa Zahri memusatkan perhatiannya terhadap tasawwuf dengan menulis buku berjudul “kunci memahami ilmu tasawuf” diterbitkan oleh Bina Ilmu, Surabaya, tahun 1995. Dalam buku tersebut diterangkan tentang kerohaniahan yang kunci mengenal Tuhan, sendi kekuatan bathin, fungsi kerohanian dalam menenteramkan bathin, tarekat dari segi arti dan tujuannya. Dengan demikian, penelitian tersebut semata-mata bersifat eksploratif yang menekankan pada ajaran yang terdapat dalam tasawuf berdasarkan literatur yang ditulis oleh para ulama’ terdahulu serta dengan mencari sandaran pada al-Qur’an dan al-Hadits.[6]

4.      Model Harun Nasution

Harun Nasution memusatkan perhatiannya di bidang tasawuf yang berjudul “Filsafat dan mistisisme dalam Islam” yang diterbitkan oleh bulan bintang, Jakarta, terbitan pertama tahun 1973. Penelitian yang dilakukan beliau adalah untuk mengambil pendekatan tematik, yakni penyajian yang disajikan dalam tema jalan untuk dekat pada Tuhan, zuhud dan station-station lain, al-Mahabbah, al-ma’rifah, al-fana dan al-baqa’, al-ittihad, al-hulul dan wahdat al-wujud. Penelitian yang menggunakan pendekatan tematik terasa lebih menarik karena langsung menuju kepada persoalan tasawuf dengan pendekatan yang bersifat tokoh.[7]

5.      Model A.J. Arberry

Dalam bukunya berjudul “Pasang surut aliran Tasawuf”, Arberry mencoba menggunakan pendekatan kombinasi, yaitu antara pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh. Dengan pendekatan demikian ia coba kemukakan tentang firman Tuhan, kehidupan Nabi, Para Zahid, para sufi. Dari isi penelitian tersebut, tampak Arberry menggunakan analisis kesejarahan yakni berbagai tema tersebut dipahami berdasarkan konteks sejarahnya. [8]

3.      Model-model penelitian tasawuf

a.       Model Sayyed Husein Nasr

Sayyed husein Nasr selama ini dikenal sebagai ilmuwan muslim kenamaan diabab modern yang amat produktif dalam melahirkan berbagai karya ilmiah.Perhatiannya terhadap pengembangan studi islam.Hasil penelitiannya dalam bidang tasawuf ia sajikan dalam bukunya berjudul tasawuf dulu dan tasawuf sekarang yang di terjemahkan oleh Abdul Hadi W.M dan diterbitkan oleh Pustaka Firdaus,Jakarta tahun 1985.

Model penelitian tasawuf yang diajukan Husein Nasr adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan tematik yang berdasarkan pada studi kritis terhadap ajaran tasawuf yang pernah berkembang dalam sejarah.[9]

b.      Model Mustafa Zabri

Mustafa Zabri memusatkan perhatiannya terhadap tasawuf dengan menulis buku berjudul Kunci Memahami Ilmu Tasawuf diterbitkann oleh Bina Ilmu,Surabaya,tahun 1995.Penelitian yang digunakannya bersifat exsploratif,yakni menggali ajaran tasawuf dari berbagai literature ilmu tasawuf.

Penelitian tersebut semata-mata bersifat exsploratif yang menekankan pada ajaran yang ditulis oleh para ulama terdahulu serta dangan mencari sandaran pada Al Qur’an dan hadis.[10]

c.       Model Kautsar Azhari Noor

Kautsar Azhari Noor selaku dosen pada Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta,dalam rangka penulisan disertasinya memusatkan perhatian pada penelitian dibidang tasawuf.Judul penelitiannya . Judul penelitiannya adalah:Ibn Arabi:Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan,dan telah diterbitkan oleh Paramadina,Jakarta,tahun 1995.Kautsar menggunakan studi tentang tokoh dengan fahamnya yang khas,Ibn Arabi dengan fahamnya Wahdat al-Wujud.

d.      Model Harun Nasution

Harun Nasution,guru besar dalam bidang Teknologi dan Filsafat Islam juga menaruh perhatian terhadap penelitian da bidang tasawuf.Hasil penelitiannya dalam bidang taswuf ia tuangkan antara lain dalam bukunya berjudul Falsafat dan Mistisme dalam Islam,yang diterbitkan oleh Bulan Bintang Jakarta,terbitan pertama tahun 1973.Penelitian yang dilakukan Harun Nasution pada bidang tasawuf ini mengambil pendekatan tematik,yakni penyajian ajaran tasawuf disajikan dalam tema jalan untuk dekat pada Tuhan,zuhud dan station-statio lain,al-mahabbah,al-ma’rifah,al-fana’ dan al-baqa,al-itihad,al-hulul,dan wahdat al-wujud.[11]

e.       Model A.J.Arberry

Arberry adalah salah seorang peneliti Barat kenamaan,banyak melakukan studi keislaman,termasuk penelitian dalam bidang tasawuf.Dalam bukunya berjudul Pasang Surut Aliran Tasawuf,Arberry mencoba menggunakan pendekatan kombinasi,yaitu antara pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh. Dengan pendekatan demikian ia coba kemukakan tentang firman Tuhan,kehidupan nabi,para Zahid, Para Sufi,para ahli teori tasawuf,struktur teori tasawuf,struktur teori dan amalan tasawuf,tarikat sufi ,teosofi dalam aliran tasawuf ,serta runtuhnya aliran tasawuf.

4.      Wahdah Al Wujud Ibn Al ‘Arabi

1.      Sejarah singkat istirahat wahdat al wujud

Doktrin wahdat al wujud biasanya dihubungkan dengan Ibn Al ‘Arabi karena dianggap sebagai pendirinya. Doktrin yang senada diajarkan oleh beberapa sufi jauh sebelum Ibn Al ‘Arabi yaitu Ma’aruf Al Karkhi (w. 200/815) seorang sufi terkenal dari Baghdad yang hidup 4 abad sebelum Al ‘Arabi, beliau mengungkapkan syahadat dengan kata-kata “Tiada sesuatu pun dalam  wujud kecuali allah”.

Adapun Ibn Al ‘Arabi sendiri sekalipun tak pernah menggunakan doktrin ini dianggap sebagai pendiri doktrin ini. Al ‘Arabi tak hanya menekankan pada keesaan wujud tapi juga menekankan pada keanehan realitas, ia mengajarkan konsep tansyb, tasybih, al batin, az zahir.

Al Qunawi menggunakan istilah wahdat al wujud  untuk menunjukkan keesaan Tuhan sesuai ide Al ‘Arabi tidak mencegah keanekaan penampakan Nya. Meskipun Esa dalam zatnya atau dalam hubungan Nya dengan tanzib Nya, wujud ada banyak dalam penampakanNya. Wahdad al wujud dalam pandangan Farghani taraf terendah dalam kemajuan spiritual.

Nasafi menggunakan istilah teknis untuk menunjukan suatu keseluruhan doktrin. Ia mengungkapkan ahli wahdat untuk menyebut oarang-orang yang mendukung wahdah al wujud.

Ibnu Taymiyyah menggunakan istilah wahdah dalam karyanya, dalam judul 2 uraian :

Ø Ibtal wahdah al wujud (pembatalan wahdah al wujud).

Ø Risalah Ila’man Sa’alahu Haqiqot madzhab al ittihadiyyah ay al’qo’ilin bi wahdah al wujud.

Ibnu Taymiyyah menyamakan wahdah al wujud dengan ittihad, istilah wahdat al wujud bagi taymiyyah mempunyai arti negatif, ia menggunakan sebagai kutukan dan ejekan. Baginya istilah yang sinonim dengan ajaran bidas adalah ittihad dan hulul.

Menurut studi modern di barat, doktrin wahdah al wujud diberi label-label panteisme, monisme, monisme pantelistik. Para studi serius tentang Ibn Al ‘Arabi mengkritik penggunaan label-label Ibn Al’Arabi.

2.      Wujud dan Adam

Penngertian wujud menurut istilah Inggris : being/existence. Kata wujud tidak dterjemahkan secara tepat kedalam bahasa apapun. Marijah Mole mengaku kesulitan menterjemahkan kata wujud secara tepat. Begitu pula W.C chittick tidak bisa menterjemahkan wujud secara memuaskan kedalam kata apapun.

3.      Al Haqq dan Al Khalq

Al Haqq dalam karya Al ‘Arabi memppunyai pengertian yang berbeda dalam konteks-konteks berbeda pola. Al Haqq dalam konteks hubungan antrologis antara Al Haqq dan Al Kholiq. Al Haqq adalah allah sang pencipta, yang esa, sedang Al Khaliq adalah makhluk, alam, yang banyak, al maujudat dan al mukminat.

4.      Tajalli Al Haqq

Konsep tajalli ada dasar pandangan dunia Ibn Al ‘Arabi. Tajalli biasanya diterjemahkan penulis-penulis modern kedalam bahasa Inggris dengan self disclosure (penyingkapan diri/pembukaan diri) self revelation (pembukaan diri,pernyataan diri), self manifestation (penampakan diri) dan theophany (penampakan tuhan).

5.      Al Zahir dan Al Batin

Baik tuhan maupun alam keduanya tidak bisa dipahami kecuali sebagai kesatuan antara kontradiksi-kontradiksi ontologis. Menurt Ibn Al ‘Arabi disebut Al Jam’a Bayna Al Addad dalam falsafah barat disebut coincidentia oppositorum.

6.      Yang Satu dan yang Banyak

Pemahaman yang benar terhadap wujud harus mencakup  bukan hanya kesatuan tetapi juga keanekaanya karena wujud adalah esa dan aneka, satu dan banyak meskipun wujud tuhan hanya satu tapi ia menampakan dirinya (tajalla) dalam banyak bentuk yang tidak terbatas dalam alam.

7.      Tanzih dan Tasybih

Pandangan Al ‘Arabi yang menyatakan bahwa tuhan menpunyai 2 segi kemisterian dan penampakan diri yaitu (tanzih dan tasybih). Dalam teologi Isla, penekanan pemahaman bahwa tuhan berbeda secara mutlak dengan alam sedangakan penekanan pemahaman tuahan, meskipun hanya pada tingkat tertentu mempunyai kemiripan/kesrupaan (tanzih).

8.      Al-Insan al-Kamil

Doktrin al-insan al-kamil Ibn al- Arabi membuat perbedaan antara manusia sempurna pada tingkat universal atau kosmik dan manusia sempurna pada tingkat partikular atau individual. Manusia sempurna pada tingkat universal, sebagaimana dikatakan W.C. Chittick, adalah hakikat manusia sempurna, yaitu model asli yang abadi dan permanen dari manusia sempurna individual, sedangkan manusia sempurna pada tingkat partikular adalah perwujudan manusia sempurna yang para nabi dan para wali Allah.

9.      Al a’yan al-tsabitah

Ibn al arabi addalah orang yang pertama kali menggunakan istikah al a’yan al tsabitah. Kata al a’yan adalah bentuk jamak dari ayn yang berarti substansi, esensi, zat, diri, individualitas, orang penting dan terpandang. Kata tsabitah adalah dalam bentuk muannas, feminim dari kata tsabit. Kata tsabit berarti tetap., tak berubah, pasti, tertentu, tak bergerak, diam, berdiri pada dasaryanng kokoh, tak goncang, teguh, mantap, konstan, stabil, permanen, kebal, tahan lama, abadi, tetap, terjamin,kesatuan yang konstan.

5.      Panteisme menurut Wahdat al-Wujud Ibn al-Arabi

1.      Pengertian Panteisme

Pantaisme berasal dari kata sifat “Panteis” lebih dari dipakai dari pada kata benda “Panteisme”. Kata panteisme dipakai pertama kali oleh John Toland, sang deis Irlandia, dalam karyanya Socinianism Truly Stated yang diterbitkan pada 1705. Panteisme pertama kali dipakai oleh salah seorang Lawan Toland Fay, pada tahun 1709 dan sejak itu istilah ini dengan cepat menjadi lazin digunakan.[12]

Definisi panteisme yang ditulis Thiessen adalah teori yang berpendapat bahwa segala sesuatu yang terbatas adalah aspek, modifikasi atau bagian belakang dari satu wujud yang kekal dan ada dengan sendirinya. Ia memandng tuhan sebagai satu dengan alam natural. Tuhan adalah semuanya, semua adalah tuhan. Ia muncul dalam bentuk masa kini yang diantaranya mempunyai pula unsur-unsur ateistik, politeistik atau teistik.[13]

Definisi thessen mengidentifikasikan tuhan dengan alam dan dengan demikian tampaknya menyatakan imanensi tuhan secara total dan menolak atau mengabaikan, transendasi-Nya. Maka tuhan adalah impersonal. Menurut CE Plumptre, panteisme dalam pengertian yang diterima secara sistem spikulasi dalam bentuk yang spiritualnya mengidentikkan alam dengan tuhan.[14]

2.      Tipe-tipe Panteisme

                        Menurut Flant ada beberapa tipe-tipe panteisme:[15]

a.    Kaum penteis yang mencari keesaan absolut dalam suatu prinsip matrial, dan membangun sistem-sistem dari apa yang dinamakan panteisme materistik

b.   Kaum panteisme yang mencari keesaan absolut dalam kekuatan fisik dan membangun sistem-sistem dari panteisme dinamis.

c.    Kaum panteis yang memandang keesaan absolut di bawah kesamaan kehidupan organik.

d.   Kaum panteis yang menempatkan keesaan absolut dalam memandang alam indrawi dan alam kesadaran sebagai ilusi.

e.    Panteisme yang berusaha menekankan suatu keesaan absolut yang mencakup semua yang keanekaan.

f.    Panteisme yang menempatkan keesaan absolut subyek dan obyek dari yang ideal dan yang real dari roh dan alam.

g.   Panteisme yang mendiskripsikan prinsip absolud sebagai suatu ego universal dan meliputi suatu ego pratikular.

h.   Panteisme hegal merunduk segala sesuatu pada pemikiran dan mendedukasi segala sesuatu dari pemikiran.

      Pendapat AE Garvie tipe panteisme secara garis besar ada dua:[16]

a.    Jika panteisme berpangkal pada keparcayaan atau keyakinanfilosofis kepada tuhansebagai realitas yang tak terhingga dan kekal maka alam yang terbatas dan temperal yang tertelan pada tuhan, dan pantaisme yang berpandang demikian akosmisme.

b.   Pankosmisme mengaku sebagai satu-satunya yang ada, sedangkan tuhan tidak ada.

3.      Kesamaran perbedaan Panteisme dengan Monisme dan Panteisme

Monomisme diartikan sebagai “Teori bahwa segala sesuatu berasal dari satu sumber terakhir yang tunggal” maka panteisme, panenteisme, teisme dan deisme sama dengan monoisme dalam hal ini karena paham-paham ini sama-sama mengaku bahwa segala sesuatu berasal dari segala sesuatu berasal dari satu sumber, yaitu tuhan.

Apabila diperhatikan pengertian monoisme ini, sulit meredakan antara panteisme dan monoisme. Kedua-duanya mengakui kesatuan realitas. S.A.Q Husaini mengatakan bahwa panteisme adalah salah satu bentuk monisme karena monisme karena disamping mempunyai bentuk panteistik , mempunyai pula bentuk-bentuk subtansial. [17]

6.      Polmik Pemakaian Istilah Panteisme Untuk Wahdat al-Wujud

1.      Pendapat-pendapat yang mendukung pemakaian istilah Panteisme

Pandangan barat tradisional mengatakan bahwa Ibn al-Arabi mewakili panteisme atau monoisme islam tentang tuhan sebagai suatu kekuatan yang hidup dan aktif dan karena itu ia bertanggung jawab sebagaian besar atas rusaknya kehidupan religius islam yang benar. Pendapat An-namare Schimmel yang telah dikemukakan dalam pendahuluan buku ini sayang sekali tidak menyebutkan nama-nama para sarana yang mewakili pandangan barat tradisional.

Schimmel mengatakan bahwa pandangan barat tradisional itu, yang mendukung pengguna istilah-istilah seperti panteisme , panteisme dan bahkan istilah-istilah  “monisme eksistensial”. Reynold A. Nicholson dalam tulisannya Ibn al-arabi yang dimuat dalam Encyclopedia of Religional and Ethis pernah mengatakan bahwa sesungguhnya sistem Ibn al_Arabi boleh dilukiskan sebagai suatu monisme panteismetik.

Hamka memandang bahwa menurut Ibn al-Arabi wujud hanya satu. Wujud alam adalah wujud tuhan. Tidak ada perbedaan diantara keduanya. Dalam pandangan hamka, Ibn al_Arabi mengidentikkan  tuhan dengan alam dan menolah perbedaan diantara keduanya.

2.      Pendapat-pendapat yang mengkritik Pemakaian Istilah Panteisme

Selanjutnya pembicaraan akan diarahkan kepada pendapat-pendapat yang menolak pemakaia istilah panteisme atau monoisme untuk menjuluki doktrin Wahdat al-Wujud. Diantara pendapat-pendapat itu yang perlu di kemukakan adalah pendapat Henry Corbin sarjana perancis ini mengkritisi pengklisifikasian doktrin Wahdat al-Wujud ke dalam monoisme panteisme dan istilah-istilah filsafat barat.

Dalam pandangan Burckhardt, panteisme menghilangkan perbedaan antara tuhan dan alam semesta dan mengacaukan pengertian tuhan sedangkan sufiisme dan wahdat al-wujud tetap mengakui perbedaannya. Nasr mengatakan doktrin tasawwuf tidak mengatakan bahwa tuhan adalah alam, tetapi bahwa alam dan tingkatannya yang real tidak dapat sama sekali lain dari tuhan jika alam adalah tuhan tentuia akan menjadi suatu realitas yang independen sepenuhnya, suatu tuhan bagi dirinya sendiri, dan menghancurkan kemutlakan dan keesaan yang hanya di milik oleh tuhan.

    Kontribusi dalam Ilmu keislaman

Bahwa Ibn al-Arabi menyamakan tuhan dengan alam sehingga tidak ada lagi perbedaan diantara kedua-duanya dan dengan demikian telah mengajarkan doktrin sesat, yang telah menyalahi ajaran tauhid yang murni, tidak dapat dibenarkan. Tuduhan seperti ini timbul dari kesalah pahaman orang-orang yang hanya melihat hanya sisi tanzih dan transendesi-Nya.

Doktrin wahdat al-wujud tidak dapat dipegang sebagai orang yang mmenyimpang dari ajaran tauhid. Sebaliknya, doktrin wahdat al—wujud adalah ekspresi tauhid yang paling tinggi, jika tidak boleh dikatakan sebagai satu-satunya bentuk tauhid yang benar. Dalam doktrin wahdat al-wujud tuhan betul-betul esa karena tidak ada wujud, yaitu wujud hakiki, kecuali tuhan : wujud hanya milik tuhan. Alam tidak mempunyai wujud kecuali sejauh berasal dari tuhan. Alam tidak lebih dari penampakannya.

Doktrin ini mengaku hanya satu wujud atau realita karena mengakui kedua jenis wujud atas realita yang sama sekali independen berarti memberikan tempat kepada syirik politeisme. Doktrin wahdat al-wujud Ibn al-arabi mempunyai posisi yang kuat karena, sebagaimana terlihat dalam karyanya, didukung oleh, atau sumber atau ayat ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.

    Kesimpulan

Bebarapa butir kesimpulan dapat diambil dari uraian di atas adalah:

Ø  Terdapat perbedaan penafsiran tentang wahdat al-Wujud Ibn al-Arabi, sekelompok sarjana menafsirkan bahwa wahdat al-wujud menyamakan tuhan dengan alam dan dengan demikian menghilangkan perbedaan diantara keduanya

Ø  Dan para sarjana tidak sependapat dalam nemdefinisikan dan mengartikan istilah panteisme. Ada pendapat yang mendefinisikan bahwa panteisme adalah kepercayaan bahwa semuanya adalah tuhan dan tuhan adalah semuanya. Tuhan adalah alam dan alam adalah tuhan, dengan definisi ini, tuhan identik dengan alam. Imanensi tuhan ditekankan secara total, sedangkan tandensi_Nya tdak diakui.

Ø  Bahwa Ibn al-Arabi menyamakan tuhan dengan alam sehingga tidak ada lagi perbedaan diantara kedua-duanya dan dengan demikian telah mengajarkan doktrin sesat, yang telah menyalahi ajaran tauhid yang murni, tidak dapat dibenarkan. Tuduhan seperti ini timbul dari kesalah pahaman orang-orang yang hanya melihat hanya sisi tanzih dan transendesi-Nya.

Ø  Doktrin wahdat al-wujud tidak dapat dipegang sebagai orang yang mmenyimpang dari ajaran tauhid. Sebaliknya, doktrin wahdat al—wujud adalah ekspresi tauhid yang paling tinggi, jika tidak boleh dikatakan sebagai satu-satunya bentuk tauhid yang benar. Dalam doktrin wahdat al-wujud tuhan betul-betul esa karena tidak ada wujud, yaitu wujud hakiki, kecuali tuhan : wujud hanya milik tuhan. Alam tidak mempunyai wujud kecuali sejauh berasal dari tuhan. Alam tidak lebih dari penampakannya.

DAFTAR PUSTAKA

Alasdar Maclntyre, “Panteisme” The Ensyclopedia Of Philosophy, Diedit Oleh Paul Edwar, 8 Vol (New York: The Macmillan Company & The free Press, 1967

Endang Syaifudin anshari, Wawasan Islam: Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam Dan Umatnya, ( Bandung; Pustaka perpustakaan salman ITB, 1982) cetakan III

Hamka, Tasawuf, Perkembangan Dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984)

Harun Nasution, Islam Di Tinjau Dari Berbagai Aspek, 2 Jilid (Jakarta UI Press, 1979)

Ibrahim B. Madkur, Wahdat Al-Wujud Bayna Ibn Arabi Wa Spinoza,

Louis Leahyy, Manusia Di Hadapan Allah, Kosmos, Manusia, Dan Allah (Yogyakarta&Jakarta: Kanisius dan Gunung Mulia, 1986)

W.C. Chittik, “Rumi”

Yunasril Ali, Membersihkan Tasawuf Dari Syirik, Bid’ah Dan Khurafat (Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya, 1987)

[1] Hamka, Tasawuf, Perkembangan Dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984) h. 156

[2] Yunasril Ali, Membersihkan Tasawuf Dari Syirik, Bid’ah Dan Khurafat (Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya, 1987) h. 35

[3] Harun Nasution, Islam Di Tinjau Dari Berbagai Aspek, 2 Jilid (Jakarta UI Press, 1979) h. 88

12 Untuk buku-buku yang telah disebut, secara lengkap dapat dilihat dalam Stephen Hirtenstein, “Bacaan Lanjut”, ibid., hlm. 367-368.

[4]  Endang Syaifudin anshari, Wawasan Islam: Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam Dan Umatnya, ( Bandung; Pustaka perpustakaan salman ITB, 1982) cetakan III h. 132

[5] Ibrahim B. Madkur, Wahdat Al-Wujud Bayna Ibn Arabi Wa Spinoza, h 367-370

[6] Ibrahim B. Madkur, Wahdat Al-Wujud Bayna Ibn Arabi Wa Spinoza, h 367-370

[7] Ibrahim B. Madkur, Wahdat Al-Wujud Bayna Ibn Arabi Wa Spinoza, h 367-370

[8] Ibrahim B. Madkur, Wahdat Al-Wujud Bayna Ibn Arabi Wa Spinoza, h 367-370

[9]  W.C. Chittik, “Rumi” h 23

[10] W.C. Chittik, “Rumi” h 23

[11] W.C. Chittik, “Rumi” h 23

[12] Alasdar Maclntyre, “Panteisme” The Ensyclopedia Of Philosophy, Diedit Oleh Paul Edwar, 8 Vol (New York: The Macmillan Company & The free Press, 1967, h 589

[13] Alasdar Maclntyre, “Panteisme” The Ensyclopedia Of Philosophy, Diedit Oleh Paul Edwar, 8 Vol (New York: The Macmillan Company & The free Press, 1967, h 589

[14] Alasdar Maclntyre, “Panteisme” The Ensyclopedia Of Philosophy, Diedit Oleh Paul Edwar, 8 Vol (New York: The Macmillan Company & The free Press, 1967, h 589

[15]  Louis Leahyy, Manusia Di Hadapan Allah, Kosmos, Manusia, Dan Allah (Yogyakarta&Jakarta: Kanisius dan Gunung Mulia, 1986) h. 132

[16] Louis Leahyy, Manusia Di Hadapan Allah, Kosmos, Manusia, Dan Allah (Yogyakarta&Jakarta: Kanisius dan Gunung Mulia, 1986) h. 132

[17] Louis Leahyy, Manusia Di Hadapan Allah, Kosmos, Manusia, Dan Allah (Yogyakarta&Jakarta: Kanisius dan Gunung Mulia, 1986) h. 132
Read more » 0 komentar

SEJARAH PERADAPAN ISLAM MASA DEPAN ANTARA PELUANG DAN TANTANGAN

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam konteks sebagai muslim sekaligus sebagai warga Negara, gelisah merupakan hak sekaligus kewajiban. Ini adalah fitrah yang membawa arus perubahan dalam sejarah yang menjadi—semacam—dentuman yang “membahayakan”. Walau mesti diakui bahwa sering kali kegelisahan membawa pelakunya ke lubang “kematian” Dengan percaya diri—karena keyakinan dan tekad mengingatkan bahwa kita hadir sebagai umat Islam sekaligus sebagai warga Negara—dengan berbagai macam hak dan kewajibannya—memiliki potensi (baca: keunggulan) dan kelemahannya masing-masing, untuk mewujudkan satu kata dalam ruang nyata: perubahan. Perubahan adalah idiom sederhana, namun ia merupakan garansi untuk cita-cita masa depan; sebuah zaman dimana kita dan banyak orang ikut menghadirkannya dan bahkan hidup di dalamnya. Perubahan adalah suatu takdir sejarah yang akan dipergilirkan. Karena itu, kita tak perlu pesimis dengan perubahan selain ikut terlibat menghadirkannya.[1]
Dalam berbicara apa adanya mengenai Indonesia (Negara yang dihuni oleh berbagai latar manusia, tempat dimana kita tinggal kini), tentang Islam (sebuah sistem yang mengarahkan kehidupan kita, bagaimana semestinya kita mengeja kehidupan) dan tentang Peradaban Dunia (sebuah kenyataan (baca: sejarah) global yang kelak menjadi tempat sistem atau Islam yang kita yakini itu berjaya ria). Penulisnya seperti terinspirasi oleh gagasan Malik bin Nabi yang mengatakan bahwa peradaban (baca: masa depan) merupakan kisah mengenai tiga variabel utama: manusia, sistem dan sejarah. Buku ini ditulis dalam tiga tema besar itu, yang dengan bahasa lain penulisnya ‘memodelkannya’ ke dalam tiga pembahasan utama seputar Ke-Indonesia-an, Ke-Islam-an dan Peradaban Dunia (Islam).[2]
Dalam merenda masa depan yang lebih baik,  maka sebagai sebuah bangsa kita mesti mengkonkretkan beberapa kebutuhan, di antaranya: Pertama, model-model represi ideologis dan mobilitas politik yang keliru mesti dikikis habis. Kedua, menjaga masa depan ke-Indonesia-an adalah mengatasi krisis keadilan dan pemerataan. Ketiga, mengelola civil society secara proporsional dengan rumus kendali: pemberian otonomi secara proporsional dan pemberian kendali secara arif. Keempat, mengelola keragaman sikap primordial, agar tidak tersulut menjadi api separatis. Kelima, menjaga keutuhan peran kepemimpinan berdasarkan konstitusi dan mengelola secara matang kesinambungan regenerasi kepemimpinan bangsa. 

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Peradaban Islam: Peradaban Emas
1.      Tingginya Kemampuan Literasi.
Sebuah peradaban maju, termasuk peradaban Islam, tentu mencakup ruang-lingkup yang sangat luas. Kemajuan peradaban Islam masa lalu pun demikian.  Jika buku dianggap sebagai salah satu warisan sebuah peradaban yang gilang-gemilang maka peradaban Islam menjadi peradaban garda depan yang ditopang oleh buku. Di samping menjadi sumber inspirasi bagi kemajuan sebuah peradaban, buku juga menjadi ukuran sejauh mana sebuah peradaban dipandang maju. Para khalifah Islam pada masa lalu memahami benar hal ini. Pada abad ke-10, misalnya, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan umum. [3]
Yang terkenal di antaranya adalah Perpustakaan Umum Cordova, yang saat itu memiliki tidak kurang dari 400 ribu judul buku. Ini termasuk jumlah yang luar biasa untuk ukuran zaman itu. Padahal empat abad setelahnya, dalam catatan Chatolique Encyclopedia, Perpustakaan Gereja Canterbury saja, yang terbilang paling lengkap pada abad ke-14, hanya miliki 1800 (1,8 ribu)  judul buku. Jumlah itu belum seberapa, apalagi jika dibandingkan dengan Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo yang terkenal itu, yang mengoleksi tidak kurang 2 juta judul buku. [4]
Perpustakaan Umum Tripoli di Syam—yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa—bahkan mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Di Andalusia, pernah pula terdapat Perpustakaan al-Hakim yang menyimpan buku-bukunya di dalam 40 ruangan. Setiap ruangan berisi tidak kurang dari 18 ribu judul buku. Artinya, perpustakaan tersebut menyimpan sekitar 720 ribu judul buku.
Pada masa Kekhilafahan Islam yang cukup panjang, khususnya masa Kekhalifahan ‘Abbasiyyah, perpustakaan-perpustakaan semacam itu tersebar luas di berbagai wilayah Kekhilafahan, antara lain: Baghdad, Ram Hurmuz, Rayy (Raghes), Merv (daerah Khurasan), Bulkh, Bukhara (kota kelahiran Imam al-Bukhari), Ghazni, dsb. Lebih dari itu, hal yang lazim saat itu, di setiap masjid pasti terdapat perpustakaan yang terbuka untuk umum.[5]
Menggambarkan hal ini, Bloom dan Blair menyatakan,  “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf membaca dan menulis Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam - A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press, London, 2002, p-105).
2.      Lahirnya Banyak Ilmuwan Besar dan Karya-karya Fenomenal Mereka.
Dari perpustakaan-perpustakaan itulah dimulainya penerjemahan buku-buku, yang dilanjutkan dengan pengkajian dan pengembangan atas isi buku-buku tersebut. Dari sini pula sesungguhnya dimulainya kelahiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang kemudian melahirkan karya-karya yang amat mengagumkan, yang mereka sumbangkan demi kemajuan peradaban Islam saat itu. Bahkan tokoh-tokoh seperti Ibn Sina (terkenal di Barat sebagai Aveciena), Ibn Miskawaih, Asy-Syabusti dan beberapa nama lain mengawali karirnya—sebagai cendekiawan dan ilmuwan Muslim—dari ‘profesi’-nya sebagai penjaga dan pengawas perpustakaan.[6] Ibn Sina, misalnya, adalah seorang pakar kedokteran. Ia meninggalkan sekitar 267 buku karyanya. Al-Qânûn fi al-Thibb adalah bukunya yang terkenal di bidang kedokteran.
Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah—di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar—yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa. Inovasi dalam masyarakat Muslimlah yang mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatannya. Budaya Islam telah memberi kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin[7] (http://jakarta.usembassy.gov.).
B.     Sisi lain Keagungan Peradaban Islam
Selain itu, setidaknya berdasarkan pengakuan Will Durant, kebesaran peradaban Islam juga tampak pada beberapa hal berikut:[8]
1.       Jaminan atas keamanan dunia.
Dalam hal ini, Will Durant jelas mengatakan: Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad. (Will Durant – The Story of Civilization).
2.       Menyatukan umat manusia.
Dalam hal ini, Will Durant terang mengakui: Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupan­nya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka sehingga jumlah orang yang memeluknya dan ber­pegang teguh padanya pada saat ini [1926] sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hati­nya walaupun ada perbedaan  pendapat maupun  latar belakang politik di antara mereka. (Will Durant – The Story of Civilization).[9]
3.       Menciptakan kemajuan ekonomi.
Dalam hal ini, Will Durant pun jujur bertutur: Pada masa pemerintahan Abdurrahman III diperoleh pendapatan sebesar 12,045,000 dinar emas. Diduga kuat bahwa jumlah tersebut melebihi pendapatan pemerintahan negeri-negeri Masehi Latin jika digabungkan. Sumber pendapatan yang besar tersebut bukan berasal dari pajak yang tinggi, melainkan salah satu pengaruh dari pemerintahan yang baik serta kemajuan pertanian, industri, dan pesatnya aktivitas perdagangan (Will Durant – The Story of Civilization).
4.       Menjamin kesehatan masyarakat.
Dalam hal ini, Will Durant secara jelas juga menegaskan: Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah al-Bimarustan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun (Will Durant – The Story of Civilization).
C.    Bukti-bukti Arkeologis Keagungan Peradaban Islam
Pada masa-masa ‘kemunduran’-nya pun, peradaban Islam tetaplah mengagumkan. Sejumlah dokumen di sejumlah museum di Turki adalah di antara saksi bisu keagungan peradaban Islam masa lalu. Kita tahu, Turki pada masa Khilafah Utsmaniah adalah saksi terakhir kemajuan peradaban Islam. Di Turki hingga hari ini, misalnya, ada sebuah masjid/museum terkenal bernama Aya Sofia. Di Aya Sofia dipamerkan surat-surat Khalifah  (“Usmans Fermans”) yang menunjukkan kehebatan Khilafah Utsmaniyah dalam memberikan jaminan, perlindungan dan kemakmuran kepada warganya maupun kepada orang asing pencari suaka, tanpa pandang agama mereka. Yang tertua adalah surat sertifikat tanah yang diberikan tahun 925 H (1519 M) kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman Inquisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia. Kemudian surat ucapan terima kasih dari Pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim Khalifah ke Amerika Serikat yang sedang dilanda kelaparan (pasca perang dengan Inggris), abad 18. Lalu surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil ke Khalifah, 30 Jumadil Awal 1121 H (7 Agustus 1709). Selanjutnya ada surat tertanggal 13 Rabiul Akhir 1282 H (5 September 1865 M) yang memberikan ijin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah beremigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah Khilafah, karena di Rusia mereka justru tidak sejahtera. Yang paling mutakhir adalah peraturan yang membebaskan bea cukai barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari eksil ke wilayah Utsmani pasca Revolusi Bolschewik, tertanggal 25 Desember 1920.[10]
Peradaban Islam juga tampak dari berbagai bangunan kuno yang saat ini masih bisa disaksikan di berbagai penjuru dunia. Kordoba sebagai ibukota Khilafah Umayah di Spanyol dibangun pada tahun 750 M. Ia menjadi pusat peradaban hingga 1258 M.  Kota tua Kordoba masih bisa kita saksikan sekarang. Sejak berdirinya, kota ini memiliki drainase yang bagus sehingga jalan-jalan tampak bersih dan asri. Ini adalah suatu teknologi sanitasi—yang Jakarta hari ini perlu iri.
Masjid Agung Kordoba, yang saat ini hanya tinggal sebagai museum, memiliki arsitektur yang sangat indah; sekaligus memiliki fungsi akustik sehingga meskipun saat itu belum ada alat pengeras suara elektronik, suara khatib bisa terdengar jelas hingga pojok-pojok masjid yang cukup besar. Tata ruang masjid juga ditambah dengan pola ventilasi yang luar biasa, yang menjamin cukupnya cahaya dan segarnya udara.[11]
Tidak jauh dari masjid terdapat Taman Alcazar yang sangat indah.  Mengingat Andalusia dikelilingi oleh tanah-tanah yang gersang maka keberadaan taman itu membuktikan sistem irigasi yang baik.  Irigasi memang salah satu teknologi yang diwariskan Islam.[12] Di banyak negeri Timur Tengah, masih dijumpai kincir untuk menaikkan air yang dibangun berabad-abad yang silam—dan kincir ini masih berfungsi!  Di beberapa kota gurun pasir juga masih dijumpai sistem distribusi air bawah tanah, yang disebut Qanat.
Dari sekian banyak bangunan fisik berusia tua di Istanbul, yang paling menarik tentu saja adalah masjid-masjid yang indah. Ikon Istanbul adalah masjid Sultan Ahmet, yang berhadapan dengan Aya Sofia.  Masjid ini dibangun pada Abad 16 dan satu-satunya masjid yang punya enam minaret.
Ketahanan bangunan ini terhadap gempa telah teruji.  Harus diingat bahwa Turki adalah wilayah pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Eropa, Asia, dan Afrika-Mediteran. Wilayah ini sangat sering diguncang gempa hingga data pertanahan di sana harus terus-menerus di-update karena titik-titiknya akan selalu bergeser oleh dinamika bumi. Namun, masjid-masjid di Turki yang dibangun berabad-abad yang lalu terbukti bertahan hingga kini.
Bangunan bersejarah semacam ini berserakan di seluruh dunia, di tempat Islam pernah berkuasa. Di Cina juga terdapat banyak masjid berusia minimal 1000 tahun.  Di India, meski sejak masa penjajahan Inggris didominasi oleh warga beragama Hindu, sebagian besar bangunannya berarsitektur Islam; termasuk Tajmahal, sebuah bangunan mirip masjid yang sangat indah, padahal sebenarnya hanya makam.[13]
Beberapa bangunan tua masih memegang fungsi seperti saat didirikan dulu, sekalipun mengalami renovasi berkali-kali. Contohnya adalah berbagai masjid dan universitas di Mesir, Damaskus, atau Istanbul. Universitas al-Azhar di Mesir faktanya adalah universitas tertua di dunia!
Sebenarnya pendidikan islam mempunyai banyak bentuk peluang hal ini dikarenakan oleh berbagai macam faktor.
Pertama yakni dari segi tujuan, menurut imam Al-Ghozali, tujuan pendidikan islam mepuanyai dua hal. [14]
a.        Mengantarkan kesempurnaan manusia yang berujung pada taqarub ilallah.
b.        Mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat.
Kedua yakni dari segi fungsi,setidaknya pendidikan islam setidaknya memiliki tiga fungsi yakni
a.       Menumbuhkembangkan (kapasitasfisik dan psikis) peserta didik ketingkat normative yang lebih baik.
b.       Melestarikan ajaran islam yang meliputi ibadah, muamalah, munakahah, dan jinayah
c.       Melestarikan kebudayaan dan peradaban selain dari apa yang telah tersebut di atas, sebenarnya pendidikan islam mempunyai peluang tang sangat luas.
Di zaman yang eperti sekarang ini. Sebut saja (era globalisasi) yang menurut macke marjinal. Globalisasi sangat mengancam umat manusia,dan apabila kita lihat lebih dekat globalosasi ialah suatu ke adaan yang ditandai oleh adanya penyatuan politik, ekonomi, social, imu pengetahuan, teknologi dan lain sebagainya.
Bagi umat islam era globalisasi sendiri ialah suaatu hal yang biasa,karena pada zaman klasik (abad ke-6 s.d. 13M) umat islam telah muali membangun hubangan-hubungan komonikasi, peradaban dan ilmu pengetahuan dengan Negara-negara lain. Tinggal bagaimana kita dalam menentukan sikap sebagai geberasi penerus atau sebagai pewaris, agar pendidikan islam mendapat peluang yang nantinyadapat diterima oleh umat manusia dan perkembanganya.
Setelah apa yang telah dipaparkan di atas, pendidikan mempunyai berbagai macam peluang.dikaranakanmasyarakat pada masa inimulai muncul kesadaran akan pentngnya sebuah pendidikan yang dapat menyelamatkan dirinya dalam proses kehidupan didunia dan akherat pada nantinya.
Serta munculya berbagai macam tuntutandari lapisan masyarakat akan pentingnya untuk melestairikan kebudayaan. Bila kita kaji dari tujuan,fungsi serta pengalaman yang cukuplama dalam penidikan islam. Kiranya pendidikan islam adalah satu-satumya yang akan dapat lebih bias diterima. Karena hal tersebut ialah yang sekarang dibutuhakan oleh masyarakat. seharusnya kitadapat masuk dalm ruangantersebut, sehingga pendidikan islamdapat berkembang dan pendapatkan respon yang baik dari masyarakat.namun dalam proses yang seperti itu selalu ada saja penyelewengan dan ketidaktahuan arti sesungguhnya sehingga yang awalnya ialah sebuah peluang akan dapat berubah menjadi sebuah ancaman atau emacam tantangan pendidikan islam.

BAB III
PENUTUP
  Kesimpulan
Sebuah peradaban maju, termasuk peradaban Islam, tentu mencakup ruang-lingkup yang sangat luas. Kemajuan peradaban Islam masa lalu pun demikian.  Jika buku dianggap sebagai salah satu warisan sebuah peradaban yang gilang-gemilang maka peradaban Islam menjadi peradaban garda depan yang ditopang oleh buku. Di samping menjadi sumber inspirasi bagi kemajuan sebuah peradaban, buku juga menjadi ukuran sejauh mana sebuah peradaban dipandang maju. Para khalifah Islam pada masa lalu memahami benar hal ini.
Berdasarkan pengakuan Will Durant, kebesaran peradaban Islam juga tampak pada beberapa hal berikut:
a.       Jaminan atas keamanan dunia.
b.      Menyatukan umat manusia.
c.       Menciptakan kemajuan ekonomi.
d.      Menjamin kesehatan masyarakat.
Sebenarnya pendidikan islam mempunyai banyak bentuk peluang hal ini dikarenakan oleh berbagai macam faktor.
Pertama yakni dari segi tujuan, menurut imam Al-Ghozali, tujuan pendidikan islam mepuanyai dua hal.
1.      Mengantarkan kesempurnaan manusia yang berujung pada taqarub ilallah.
2.      Mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat.
Kedua yakni dari segi fungsi,setidaknya pendidikan islam setidaknya memiliki tiga fungsi yakni
1.      Menumbuhkembangkan (kapasitasfisik dan psikis) peserta didik ketingkat normative yang lebih baik.
2.      Melestarikan ajaran islam yang meliputi ibadah, muamalah, munakahah, dan jinayah
3.      Melestarikan kebudayaan dan peradaban selain dari apa yang telah tersebut di atas, sebenarnya pendidikan islam mempunyai peluang tang sangat luas.

DAFTAR PUSTAKA

Marshal Hodgson, The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia ,  pent. Mulyadhi Kartanegara, (Jakarta: Paramadina, 2004).
Sebut saja misalnya tulisan Hartono Ahmad Jaiz, Pemurtadan di IAIN, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005).
Karel A. Steenbrink, Pesantren,  Madrasah dan Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurkikulum Modern, (Jakarta: LP3ES, 1994).
Dadi Darmadi, “IAIN dalam Wacana Intelektual  Islam  Indonesia”  Artikel Pilihan Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam  Departemen Agama RI. 




[1] Yatim badri, Sejarah Peradapan Islam Dirosah Islamiyah II, (Jakarta, raja grafindo:2006) hal. 3
[2] Shidiq Nouruzzaman, Pengantar Sejarah Muslim, (Yogyakarta, mentarai massa: 1989) hal 55
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/lahirnya-ilmuwan-besar
[8] Karel A. Steenbrink, Pesantren,  Madrasah dan Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurkikulum Modern, (Jakarta: LP3ES, 1994).

[9]  Lapidus ira M, Sejarah Sosial Umat Islam Bagian Kesatu (Jakarta, logos wacana ilmu:1997)
[10]  A. Salabi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, bulan bintang: 1973) hal. 23
[11]  A. Salabi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, bulan bintang: 1973) hal 23
[12] A. Salabi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, bulan bintang: 1973) hal 24
[13] A. Salabi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, bulan bintang: 1973) hal 27
[14] Su’ud abu, Islamologi Sejarah, Ajaran Dan Perencanaannya Dalam Peradapan Umat Manusia, (jakarta, raja grapindo: 2006)
Read more » 0 komentar

Copyright © Dunia_Pendidikan 2011